Sabtu, 28 Juli 2018

[Resensi Novel Terjemahan] Wanita dalam Lukisan oleh Stephen King


Rose Madder
Wanita dalam Lukisan
Stephen King

Judul asli: Rose Madder  
Pengarang: Stephen King  
Penerjemah: Sutanty Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama  
Cetakan pertama: Juli 1997  
Jumlah halaman : 752 hlm

Rose Daniels hidup dalam kegilaan suaminya selama belasan tahun, menahankan penganiayaan demi penganiayaan. Namun suatu ketika ia terjaga dari mimpi buruknya - oleh setitik darah di seprainya. Ia pun melarikan diri, untuk memulai hidup baru.
Namun Norman Daniels tidak mau begitu saja ditinggalkan, apalagi sang istri membawa kartu ATM-nya. Norman pun berangkat mencarinya. Dan sebagai polisi, ia sudah terlatih melacak jejak.
Tapi Rosie yang kemudian dijumpainya bukan lagi Rosie yang dulu. Rosie yang penakut dan selalu pasrah telah memperoleh kehidupan baru yang indah, kekasih baru yang mencintainya, dan... kekuatan misterius yang didapatkannya dari Rose Madder, wanita dalam lukisan yang dibelinya di sebuah toko gadai. Maka dimulailah pertarungan hidup dan mati dalam dunia di balik lukisan.

Latar belakang tokoh utamanya membuat saya tersihir untuk terus membalik halaman novel ini. Saya penasaran bagaimana jalan petualangan Rosie agar bisa mandiri, lepas dari suaminya. Rasanya realistis sekali mengikuti kisah perjuangan Rosie. Semua orang, semua perempuan, saya rasa pernah mengalami apa yang dialami Rosie.

"Kau mengerti? Kau bisa menjadi orang bebas kalau mau. Bebas dari tangannya, dari gagasan-gagasannya, dari dia. Kau mau itu? Mau menjadi orang bebas?"
"Ya," kata Rosie dengan suara rendah dan gemetar. "Aku menginginkannya, melebihi apa pun di dunia."
Anna Stevenson mencondongkan tubuh melewati meja dan mencium lembut pipi Rosie, sambil meremas tangannya, "Kalau begitu, kau datang ke tempat yang tepat. Selamat datang, Sayang."

Saya selalu suka dengan cara King menulis cerita, menuturkan kisah; sangat mengalir, ringan, dan realistis. Kisah hidup Rosie sangat lah familiar. Ada banyak sekali Rosie di sekitar kita; bahkan mungkin kita sendiri pun tanpa kita sadari seperti dia. Sangat menginspirasi.

Cerita ini menggunakan sudut pandang orang kedua yang bergantian antara Rosie dan Norman.  Beliau bisa menggambarkan dengan apik cara berpikir dan perasaan dari sudut pandang seorang perempuan. Rosie, seorang perempuan tertindas digambarkan dengan hidup, seolah King sendiri adalah seorang perempuan yang mengalami penindasan itu. Begitu pula dengan alter ego pada tokoh antagonisnya. Seakan-akan King sendiri yang mengalami pergolakan batin seperti itu. Semua itu bisa dituangkan dengan apik pada tokoh-tokoh cerita King.

Pengembangan karakternya bagus banget, sangat intens, perlahan, tidak berubah secara tiba-tiba. Rosie yang awalnya adalah seorang wanita penakut perlahan-lahan mulai jadi pembangkang. Norman yang semula ingin menghukum Rosie seiring berjalannya waktu berubah menjadi obsesi; dia rela membunuh siapa pun demi mendapatkan Rosie. Semua itu menjadikan para tokoh di buku ini terasa hidup dan nyata.

Covernya elek, tapi saya tidak peduli hahahaha!

Jumat, 22 Juni 2018

[Resensi Novel Terjemahan] Petualangan Tom Sawyer oleh Mark Twain


The Adventure of Tom Sawyer
Petualangan Tom Sawyer
Mark Twain

Judul asli: The Adventure of Tom Sawyer
Pengarang: Mark Twain
Penerjemah: Nita Iskandar
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan pertama: tahun 2010
Jumlah halaman: 371 hlm 


Tom Sawyer. Nama ini begitu akrab di telinga para remaja sampai era 80-an, bahkan untuk mereka yang menyukai fiksi-fiksi klasik, nama itu tetap ada di hati mereka hingga saat ini. Namanya identik dengan petualangan, bocah laki-laki yang bandel namun cerdik dan tidak mudah menyerah, serta menjadi "model" anak-anak Amerika di abad ke-19.
Penulisnya, Mark Twain (Samuel Langhorne-Clemens), menciptakan tokoh Tom Sawyer dengan mengambil sifat-sifat dari tiga sahabatnya ketika remaja. Lalu nama "Tom Sawyer" sendiri bukanlah seratus persen fiktif. Nama itu kemungkinan diambil dari nama seorang kenalan Mark Twain di San Fransisco, ketika ia bekerja sebagai reporter di koran San Fransisco Call.

Alasan utama saya memilih buku ini di rak perpustakaan karena saya jatuh cinta dengan tulisan Mark Twain setelah membaca bukunya yang berjudul Roughing It aka Blusukan. Saya asli cupu banget, belum pernah baca buku klasik terkenal ini (walaupun setelah saya ingat-ingat lagi rasa-rasanya saya pernah tahu bagian ketika Tom Sawyer menggantikan Becky untuk menerima hukuman cambuk. Tapi kapan saya baca buku ini saya kok gak ingat). Makanya begitu baca Roughing It saya tertantang untuk membaca Petualangan Tom Sawyer walaupun sejujurnya saya sedang agak malas baca cerita dengan genre seperti ini yang secara garis besar ceritanya bisa ditebak hehe. Dan memang seperti dugaan saya, ceritanya tentang kehidupan sehari-hari seorang anak laki-laki yang tinggal di desa kecil di Amerika pada abad ke-18. Klimaksnya adalah ketika Tom Sawyer dan sahabatnya, Huckleberry Finn, menjadi saksi sebuah pembunuhan yang pada akhirnya menuntun mereka pada harta karun yang disembunyikan oleh pembunuh tersebut. Macam cerita Lima Sekawan.

Oke, kesan pertama baca buku ini: bingung, beberapa kalimat atau paragraf membingungkan, entah terjemahannya yang kurang pas atau saya yang kurang pas menangkap maksudnya hehe ^^; Ya pokoknya lumayan banyak kalimat-kalimat yang membuat saya bingung ini maksudnya mau bilang apa. Banyak typo juga :(

Membaca buku ini membuat saya banyak berpikir (cie elah, emang biasanya pernah mikir? wkwkkw), agak bosan, sedikit bingung (di luar konteks beberapa kalimatnya yang kacau) karena buku ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang bocah laki-laki yang tinggal di sebuah pelosok desa (namanya St. Petersburg, tapi itu fiktif, ya) di Amerika pada tahun 1840an. 
Pertama, saya adalah perempuan jadi saya gagal paham sama permainan anak-anak cowok seperti contohnya: apa menariknya sih bermain tikus mati /sweat..
Kedua, setting tempat di sebuah desa di Amerika, dimana budayanya sangat berbeda dengan budaya di daerah saya seperti contohnya: adegan Tom Sawyer mencium anak gadis kok sepertinya kurang pas untuk dibayangkan ya, apalagi dibayangkan dilakukan anak umur 10 tahun an.. -_-;
Ketiga, setting waktu abad ke-18 ini yang paling berpengaruh terutama pada keseharian anak jaman Tom jika dibandingkan dengan keseharian saya ketika masih anak jaman now. Beda banget (ya iyalah!). Jaman sekarang mana boleh bocah SD jalan-jalan sampai berenang-renang di laut lalu nginep di sebuah pulau tak berpenghuni.

Berlawanan dengan pernyataan di atas, sesuatu yang digambarkan oleh Mark Twain dengan akurat di buku ini adalah perasaan lebay saat kita (saya) masih anak-anak, terutama perasaan sedih, tertekan, marah. Seperti ketika Bibi Polly marah, Tom langsung merasa menjadi anak termalang di dunia, ketika Becky ngambek, Tom langsung merasa sangat nelangsa, tak seorang pun menyayanginya, terlantar, tidak ada yang mau berteman dengannya, dan ingin mati saja rasanya (dan gambaran itu sedikit banyak mirip dengan perasaan saya ketika kecil dulu wkwwkw. Dimarahi Mama dikit aja langsung pengen kabur dari rumah aja rasanya ^^;). Apa kalian juga seperti itu?

Hal yang mencolok di cerita ini yaitu kegiatan tukar-tukaran barang, koleksi, atau apa pun dengan teman. Barang yang ditukar pun aneh-aneh:  kutu, kucing bermata satu, kulit jeruk, kalung anjing tanpa anjingnya (wkwkwk), dll. Lalu masih adanya hal mistis atau takhayul dalam kesehariannya seperti penggunaan mantra-mantra, campur tangan tukang sihir apabila ada kejadian buruk, dst. karena memang pada masa itu hal-hal yang berbau mistis masih melekat.

Harapan Mark Twain pada buku ini terwujud: beliau mengharapkan cerita ini bisa membangkitkan kenangan orang dewasa pada masa kecilnya dulu; bagaimana dulu keseharian dan petualangan mereka, apa yang dulu diucapkan, dirasakan dan dipikirkan oleh mereka - bahkan apa yang menjadi khayalan dan angan-angan pada waktu kecil yaitu bertualang, menemukan harta karun lalu menjadi kaya raya! Iya gak sih? Karena ada angan-angan saya yang seperti itu ketika saya kecil :) Beberapa adegan juga berhasil membuat saya senyum-senyum simpul karena teringat masa ketika saya masih bocah (tukar-tukaran benda dengan teman, meniru adegan di buku cerita, memakai mantra-mantraan). Ah, betapa membahagiakannya masa kecilku :)

Ada satu misteri yang belum saya ketahui: apa sebenarnya yang dilakukan Dr. Robinson di kuburan? Untuk apa dia menggali mayat?

 



Kamis, 03 Mei 2018

[Resensi Novel Terjemahan] The Long Walk oleh Stephen King


The Long Walk
Jalan Kaki Sampai Mati
Stephen King

Judul asli: The Long Walk
Pengarang: Stephen King
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: 2018
Jumlah halaman: 432 hlm

Setiap tahun, pada tanggal satu Mei, seratus remaja terpilih bertemu untuk berkompetisi dalam acara "The Long Walk". Di antara para peserta tahun ini ada Ray Garraty yang berusia 16 tahun. Dia sudah tahu aturan-aturannya: peserta yang berjalan di bawah batas kecepatan, tersandung, duduk... akan diberi peringatan. Setelah tiga kali peringatan... peserta tersebut akan mendapat tiket. Awas, jangan sampai mendapat tiket. Sebab hanya akan ada satu pemenang di akhir. Satu pemenang yang berhasil bertahan...

Oke, untuk cover saya awalnya lihat itu gambar kulit kerang yang bertebaran di tepi pantai kwkwkw. Saya pikir sedikit kurang kelam. Kemudian kesan pertama saya sama buku ini: ketika membaca lembar-lembar pertama buku ini, saya berpikir bakalan seperti apa ya ceritanya. Maksud saya inti ceritanya kan sangat simpel. Lomba jalan sampai salah satu orang menang. Lalu cerita seperti apa yang ditulis di buku yang tidak bisa dibilang tipis ini. Apa akan ada pemberontakan? Baku hantam? Baku tembak? Inilah jeniusnya Mr. King. Bisa merangkai ide yang sederhana menjadi cerita yang indah.

Selesai baca buku ini, cerita The Hunger Games, The Maze Runner, Divergent Trilogy rasanya seperti remah-remah peyek.. Tidak perlu berbuku-buku, berseri-seri untuk menceritakan kengerian buku ini. Kengerian di sini bukan berarti ada monster yang mengejar-ngejar dalam kegelapan, alien yang hendak mencungkil copot jantung kita, atau badut yang menyeringai kejam. Tidak ada itu semua di buku ini. Buku ini adalah tentang berjalan atau mati.

Sesuai dengan judulnya. Sangat sederhana. Berjalanlah atau kamu mati. Gitu aja. Pada suatu masa di Amerika, di dalam dunia yang terlihat normal, ada sekelumit bagian yang menyimpang yang merupakan bentuk dari dunia distopian. Namanya Permainan Adu Jalan Jauh. Dalam game ini para peserta terpilih akan berjalan tanpa henti sampai salah satu akan bertahan dan jadi pemenangnya. Tetap ada peraturannya: ada batas kecepatan minimun, ini menjadi adil karena semua peserta akan mulai berjalan pada waktu yang bersamaan dengan kecepatan yang sama pula, tidak ada yang jalan santai atau leha-leha dsb karena begitu peserta kedapatan berjalan di bawah kecepatan minimum akan mendapatkan peringatan. Masalahnya kalau sudah tiga kali mendapat peringatan, peserta akan mendapat tiket. Mendapatkan tiket artinya peserta ditembak sampai mati. DOR. Gitu aja. Kamu keluar dari permainan.

Jangan lupa halang rintangnya: kram kaki, kram perut, kram otak, diare, panas matahari, dingin hujan badai, hasrat ingin BAK dan BAB, dan tentu saja kamu perlu tidur! Rintanagn itu berasal dari diri peserta sendiri. Tidak ada pertolongan untuk semua itu. Begitu jalanmu melambat dan kamu mendapat tiga peringatan, maka wassalam deh (bayangkan, peserta harus BAK, BAB, bobok sambil jalan broh!). Tapi mimpi buruknya bukan itu. Kewarasanmu. Melihat teman-temanmu dibantai satu persatu, kata-kata menjatuhkan dari peserta lain yang bisa mempengaruhi pikiranmu, kelelahan berujung pada stress yang lama-lama menjadi kegilaan, dan pada akhirnya kamu menyadari bahwa kamu berjalan tanpa ada garis finish..

Setelah dipikir-pikir, keseluruhan permainan ini sebenarnya cukup adil. Para peserta dilarang saling menghalangi, mereka mendapat jatah makanan (berupa konsentrat yang mudah dilahap), mereka berhak mendapatkan botol air kapan pun mereka meminta, bahkan anak-anak yang ingin ikut Adu Jalan Jauh ini tidak dipaksa untuk mendaftar. Benar! Tidak ada paksaan! Mereka, para peserta itu, ikut dengan sukarela! Ini yang bikin cerita ini jadi psiko. Memang ada hadiah besar kalau kamu berhasil menang, tapi apakah sebanding dengan ini semua? 

Buku ini ditulis di bawah pseudonim Richard Bachman. Sekilas penulisan buku ini terlihat lebih sederhana (awal baca seperti membaca Neal Shusterman^^;), tapi semakin lama nuansa Stephen King semakin terasa. Cara penulis bermain-main dengan pikiran pembaca, kuatnya karakter para tokohnya dimana semakin dalam kamu masuk ke dalam cerita semakin kamu mengenal mereka dan akhirnya jatuh cinta dengan mereka *ehem. Percakapan antar tokoh, tingkah laku mereka, sangat natural hingga terbentuk menjadi tokoh yang nyata, suasana yang nyata, dan kengerian yang nyata. Yoi, Mr. King bisa menggambarkan ketakutan dan kegilaan dengan akurat. 

Buku yang sangat melelahkan untuk dibaca, membuat depresi, sekaligus mengharukan. Saya menangis baca ini. 













Rabu, 11 April 2018

[Resensi Novel Terjemahan] Origin oleh Dan Brown


Origin
Dan Brown

Judul asli: Origin
Pengarang: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, dan Dyah Agustine
Penerbit: Bentang
Cetakan pertama: November 2017
Jumlah halaman: 511 hlm 


Robert Langdon diundang menghadiri acara pengungkapan penemuan Edmond Kirsch, seorang miliader sekaligus ilmuwan komputer, di Museum Guggenheim, Spanyol. Kirsch yang ateis, sesumbar temuannya akan mengubah wajah dunia selamanya. Temuan yang diklaim akan menjawab dua pertanyaan fundamental eksistensi manusia itu digelar secara langsung melalui internet dan disiarkan ke seluruh dunia.
Namun, terjadi kekacauan. Kirsch terbunuh, sementara Langdon malah dituduh terlibat dalam pembunuhan dan menculik tunangan calon raja Spanyol. Langdon harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa dia tak bersalah, sekaligus mengungkap apa sebenarnya temuan Kirsch yang membuat pria itu harus kehilangan nyawa. Menyusuri koridor-koridor gelap rahasia sejarah dan agama, Langdon harus berpikir cepat untuk mengungkapkan rahasia sekaligus menghindari musuh yang sepertinya tahu segala dan mendapat dukungan dari Istana Kerajaan Spanyol.
Berhasilkah Langdon memecahkan teka-teki temuan Kirsch yang sepertinya menyalakan api konspirasi jahat di seluruh dunia? Tokoh-tokoh agama terbunuh, kaum fanatik menebarkan ancaman, sementara musuh tersembunyi terus bisa menebak langkah mereka. Pada saat sepertinya tak ada jalan keluar, satu sosok misterius membantu Langdon di sepanjang jalan. Siapakah sosok dingin tanpa emosi ini? Akankah dia benar membantu Langdon mengungkapkan temuan Kirsch atau malah menjebak Langdon dalam kelindan konspirasi yang akan menghancurkan kemanusiaan?

 

Pertanyaannya adalah: mana pembatas bukunyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?

Dan jawabannya adalah: bukunya OK. Lumayan. Maksud saya diantara gencarnya promosi novel ini, saya tidak terlalu takjub setelah membacanya.  Saya masih menyukai petualangan-petualangan Langdon sebelumnya. Cerita di buku Origin ini kurang mengigit. Petualangannya kurang menegangkan. Aksi laganya kurang dahsyat. Plot twistnya kurang mencengangkan. Segala misteri dan teka-tekinya kurang misterius. Sebenarnya lumayan bisa ditebak siapa dalang di balik semua ini; hanya alasannya saja yang saya gak bisa nebak. Alasan kenapa semua kekacauan ini terjadi benar-benar bikin mata saya terbelalak. Wow!

Ilustrasi cover saya gak paham itu gambar apa ^^; Fontnya oke banget.
Banyak kutipan bagus maupun (tentu saja) informasi di buku ini:

H. 25 p. pertama, "... sains dan agama tidak saling bersaing, mereka adalah dua bahasa berbeda yang berupaya menceritakan kisah yang sama. Ada ruang di dunia ini bagi keduanya."

H. 48 p. 9, "... dalam seni modern, mahakarya lebih sering menyangkut gagasan daripada pengerjaan. ..."

H. 477 p. 4, "Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu terkutuk untuk mengulanginya," 

Sebenarnya masih banyak kutipan lainnya yang mengena. Silakan baca novel ini dan hanyutlah dalam petualangan Langdon menguak misteri terbesar di semesta ini.














































Saya lebih puas dan menikmati buku-buku yang saya baca sebelumnya. Maaf ya Mr. Brown..




 


Rabu, 21 Maret 2018

[Resensi Novel Terjemahan] Dark Matter oleh Blake Crouch


Dark Matter
Blake Crouch

Judul asli: Dark Matter
Pengarang: Blake Crouch
Penerjemah: Jia Effendie
Penerbit: Penerbit Noura
Cetakan kedua: Agustus 2017
Jumlah halaman: 462 hlm

Suatu malam - tanpa firasat apa pun - Jason Dessen diculik. Sesuatu disuntikkan ke tubuhnya. Dia mendapati dirinya terbangun di dunia yang berbeda. Di sana istrinya bukanlah istrinya dan anaknya tak pernah terlahir sama sekali. Di sana dia bukanlah dosen fisika biasa, melainkan genius terkenal yang telah melakukan hal-hal istimewa. Di sana segalaya tampak sama, sekaligus berbeda. Ke mana kehidupannya yang lama? Bagaimana caranya agar dia bisa kembali?
Hanya itulah yang Jason inginkan: kembali ke keluarga yang dicintainya, tempat dia merasa bahagia. Namun, perjalanan menuju ke sana demikian berliku dan menakutkan, melebihi imajinasi terliarnya.

Buku ini sangat hype, semua orang ngomongin buku ini, marketingnya gencar, sehingga saya pun tertarik dan akhirnya membelinya. Tapi ternyata setelah selesai baca saya agak kecewa. Mungin karena saya sudah berharap banyak tapi ternyata saya kurang suka sama buku ini.

Oke lihat kemasannya dulu, ya. Cover terbitan Noura ini kurang suka. Menurut saya terlalu pucat. Kurang kelam, kurang misterius. Semisal backgroundnya cokelat tua mungkin oke, atau sekalian putih aja ^^


Ide ceritanya oke, membuat saya berharap bakal seperti apa ceritanya, pasti bakal keren, menegangkan, membuat saya menahan napas, membaca sambil tanpa sadar mata saya terbelalak karena takjub. Tapi ternyata tidak. Memang ide cerita orisinil tapi pengaplikasiannya kurang detail, rasanya mustahil, seolah ada bagian-bagian yang kosong dan kurang lengkap. Semua yang bersifat teknis seperti konsep multisemesta, cara kerja kotak, senyawa yang disuntikkan, saya tidak bisa memahaminya.

Aksi yang ditawarkan pun kurang intens, kurang menegangkan, rasanya adegan baru mulai memanas tapi ternyata sudah berakhir. Tanpa klimaks akhirnya. 

Hal pertama yang paling saya sadari adalah saya kurang suka gaya penceritaan Crouch. Menurut saya kurang mengalir, kurang luwes, kuang detail. Pendiskripsian Crouch terhadap suasana atau lingkungan sekitar, suatu tempat, suasan hati atau perasaan para tokohnya kurang terinci jadinya saya kurang dapet feelnya. Saya tidak merasa ikut terjerumus ke dalam petualangan para tokohnya, saya kurang bisa menghayati apa yang dialami dan dirasakan oleh para tokohnya. 

Tentu saja pasti ada bagian yang saya sukai: yaitu hubungan kekeluargaan yang erat Jason terhadap keluarganya dan juga sebaliknya. Bagaimana Jason sangat terhubung dengan keluarganya, perjuangannya untuk bisa kembali pada mereka, hubungan suami dan istri, ayah dan anak, itu membuat saya terharu.

Kesimpulannya:
- Ide ceritanya asik.
- Tapi penyampaian ceritanya kurang enak. Masalah teknis kurang detail.

Nasehat untuk saya, jangan ikut-ikutan. Baca buku yang kira-kira disuka aja :D

Minggu, 25 Februari 2018

[Resensi Novel Terjemahan] The Fate of The Tearling oleh Erika Johansen


The Fate of The Tearling
Erika Johansen

Judul asli: The Fate of The Tearling
Pengarang: Erika Johansen
Penerjemah: Angelic Zai Zai
Penerbit: Penerbit Mizan Fantasi
Cetakan pertama: November 2017
Jumlah halaman: 684 hlm

Pasukan Mort telah mundur tanpa melakukan pembantaian dan penjarahan, tapi bukan berarti Tearling terbebas dari ancaman. Tanpa keberadaan Ratu Kelsea, pihak Gereja Arvath semakin berani dan semena-mena, hingga mengancam untuk mengambil alih pemerintahan. Sementara itu, iblis gelap yang selama ini terpenjara di Pegunungan Fairwitch di utara, telah bebas dan mulai meneror rakyat.
Di dalam penjara, meskipun tidak lagi memegang kedua safir Tearling, Kelsea masih mendapat visi-visi dari masa lalu. Dengan putus asa, dia berusaha belajar dari kesalahan di masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Apakah Tearling masih dapat diselamatkan dari kehancuran?

Tokoh-tokoh di buku sebelumnya yang sudah dikenal misterius dan tidak terkalahkan (tau lah, Fetch, Row, Ratu Merah) di buku terakhir ini jadi terasa lembek sekali. Buku ini mulai mengupas latar belakang mereka, para tokoh antagonis. Pembaca semakin mengenal mereka dan saya menyadari bahwa mereka ternyata sangat manusiawi. Berbeda sekali dengan citra yang saya tangkap tentang mereka sebelumnya. Bahkan Ratu Merah atau pun Ducarte tidak semenakutkan di buku sebelumnya. Semakin mendekati akhir buku semakin tidak semangat baca karena semakin lama para villain semakin payah. Mereka tidak tampak membahayakan, mengancam, dan menggoda seperti di dua buku sebelumnya. Saya pikir musuh utama Kelsea adalah Ratu Merah dan legiunnya yang mematikan. Saya pikir Kelsea bakalan jungkir balik mencari cara bagaimana mengatasi Ratu Merah dan pasukannya yang tidak terkalahkan dengan negosiasi atau bertahan atau apa pun TANPA sihir. TAPI

Seperti biasa, saya suka gaya penulisan Miss Johansen; suka dengan pemilihan kata-katanya dan penyusunan serta penyampaian kalimatnya. Tidak terlalu puitis dan filosofis tapi tetap indah. Tidak juga blak-blakan. Seperti di h. 39 p. 5 pada akhir paragraf,"Namun, tiga orang di belakangnya merupakan teka-teki." Miss Johansen memilih menggunakan kata teka-teki yang menurut saya terdengar lebih bagus daripada kata lain yang sepadan.

Setiap tokoh memegang peranan penting pada jalannya cerita. Ada beberapa tokoh yang tidak terlalu berpengaruh pada inti cerita tapi penulis seperti ingin menegaskan atau menunjukkan suatu hal melalui tokoh tersebut kepada pembaca. Misal, cerita Javel dengan Allie menyiratkan kalau laki-laki juga bisa lemah dan wanita sebaliknya, ingin dan mampu mandiri dan menjadi kuat. Cerita Aisa menggambarkan realita KDRT, pedofil, dan trauma masa lalu yang bisa mempengaruhi kehidupan seseorang. Itu semua mengarah pada kecacatan utopia disebabkan karena watak alami manusia.

Cerita masih di seputar para tokoh dari buku dua; hanya ada sedikit tokoh baru yang membuat saya lega, karena saya masih terikat dengan tokoh-tokoh sebelumnya dan sebenarnya tidak terlalu suka cerita dengan banyak tokoh karena rasanya jadi tidak fokus..

Baca Bab 5. Nukilan Ucapan Ratu Glynn, DIKUMPULKAN OLEH BAPA TYLER. That s the point! Saya rasa ide utama penulis membuat cerita ini adalah bahwa utopia itu tidak nyata. Penulis ingin menunjukkan bahwa cita-cita manusia untuk membangun dunia utopia sebenarnya mustahil. Penulis seperti ingin mematahkan mantra utopia. Lihat, tidak ada yang namanya utopia di seluruh alam semesta ini. Keren!

Quote:
Kau istimewa, semua istimewa. Tapi, kau tidak lebih baik. Semua orang berharga (h. 186).  Pelajaran pertama di dunia baru, cita-cita utopia.
Utopia bukan berarti memulai dari awal seperti yang dibayangkan Tear, melainkan sebuah evolusi. Umat manusia harus berjuang untuk mencapai keadaan itu, dan berjuang keras, mendedikasikan diri untuk selalu mewaspadai kesalahan masa lalu (h. 447). Tear yang sepertinya tahu segalanya dan selalu benar ternyata malah yang membuat kesalahan paling fatal. 

Nasehat:
1. Jangan melupakan/menutup-nutupi masa lalu, jadikan itu sebagai pelajaran. Apa yang mengubah Row adalah karena dia tidak tahu tentang masa lalu - masa sebelum Penyeberangan. Dia mengira kalau kehidupan sebelum Penyeberangan lebih baik sehingga dia ingin kembali ke dunia lama.
2. Setialah ^^; Agar tidak ada Row-Row yang lain. Ratu Merah sendiri memiliki masa lalu kurang lebih seperti Row. Itulah pentingnya belajar dari masa lalu, agar kisah buruk tidak terulang lagi.
3. Siapa pun kamu, bagaimana pun latar belakangmu, kamu tetap bisa menjadi hebat seperti Kelsea. Dan juga Aisa. Juga Ewen. Juga Ratu Merah.

Cerita di buku ketiga ini semakin rumit saja. Sihir semakin banyak terlibat, perjalanan waktu yang membingungkan. Tidak seperti bayangan saya ketika membaca buku pertama; membayangkan cerita seru, menegangkan, dan lebih logis! Penasaran banget, kan, gimana cara Kelsea mengatasi ancaman Mortmesne sekaligus ancaman dari dalam kerajaannya sendiri, plus segala kebobrokan di wilayah kerajaannya.

Berdasar pada buku-buku sebelumnya saya berharap lebih tapi saya sebenarnya merasa kecewa pada beberapa cerita di buku ini. Seperti perpisahan Pen dengan Kelsea yang hanya seperti itu! (emang mau berharap yang kaya apa juga, ini kan cinta antara ratu dengan pengawalnya. Tapi kan, tapi kan.. sob). Lalu kematian Ratu Merah yang kelihatannya terlalu mudah untuk ukuran seorang Ratu Merah yang di buku sebelumnya digambarkan seperti apa tahu sendiri. Bahkan misteri yang paling ditunggu jawabannya sejak di buku pertama, siapa ayah Kelsea, ternyata cuma begitu saja. Disamping itu semua, plot twistnya oke, seperti peran Ewen yang seolah menjadi superstar diantara para superstar, menjadikan buku ini punya nilai 50:50 - gak bagus tapi juga gak jelek.

Kesan setelah menutup buku: ASTAGA. Turut berduka untuk Kelsea. Ada harga yang harus dibayar. Saya merasa Kelsea seperti tumbal; dia harus menderita untuk menyelamatkan Tearling dan rakyatnya. Dia selalu menderita, baik di masa kini maupun masa yang akhirnya tidak pernah terjadi. Saya juga sedih karena akhirnya harus berpisah dengan Tearling dengan segala isinya. Nah, pertanyaanya:
1. Apakah mahkota Tearling masih terpendam?
2. Bukankah yang membunuh Jonathan itu Katie dan bukannya Row?
Sebenarnya masih buanyak pertanyaan, misalnya seperti apa sebenarnya kutukan yang menimpa Row dan kawan-kawannya? Namun pada akhirnya semua pertanyaan itu tidak lagi terasa penting sebab itu ditujukan untuk masa yang tidak pernah terjadi.  



Kamis, 25 Januari 2018

[Resensi Novel] Aruna & Lidahnya oleh Laksmi Pamuntjak


Aruna & Lidahnya
Laksmi Pamuntjak

Judul: Aruna & Lidahnya
Pengarang: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Maret 2015
Jumlah halaman: 427 hlm

Aruna Rai, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah). Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan.
Bono, 30 tahun, serlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan.
Nadezhda Azhari, 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan makanan. Obsesi: Makanan.
Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memiliki kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.

Satu hal setelah rampung baca novel ini: pengen bebek sinjayyyyyy! Sama rujak cinguurrrr! Sama kwetiaw Pontianakkkkk (belum pernah makan sebelumnya, dan jadi penasaran bangetttt pengen cobaaaa!). Pokoknya setelah selesai baca ini jadi pengen keliling Indonesia buat cobain kuliner lokalnya. Jadi, bagi kalian yang suka makan plus suka baca novel saya rekomendasikan baca ini.

Covernya bagus, gambar mangkok mie ayam gerobakan (marai kepingin makan mie ayam gerobak coba huhuhu). Warnanya juga asik, jarang novel dewasa warna sampulnya biru muda seperti ini. Cantik, deh pokoknya. Ceritanya lumayan. Saya suka gaya penulisan yang gak pake lo gue gitu, gak suka yang bahasanya terlalu slang. Novel ini bagus. Gaya penulisannya semi formal dipadu dengan kalimat-kalimat filosofis sehingga terasa indah. Riset Mbak Laksmi untuk buku ini sangat dalam. Bagian per-kuliner-an dan wawasan tentang flu unggas cukup akurat. 

Kesan awal saya setelah baca sampai bab 5: penulis sangat detail dalam menggambarkan passion para tokoh terhadap makanan. Alurnya sendiri bertele-tele, sedikit bikin bosan. Disisipi banyak informasi kecil seputar makanan, misalnya daging sapi bisa memicu tumbuhnya sel kanker. Nah loh?! Karakter dan latar belakang para tokohnya bervariasi dan diceritakan dengan baik sehingga pembaca memahami watak dan kondisi tiap tokohnya. Menurut saya buku ini unik karena menggunakan tokoh utama seorang epidemiologist dengan kehidupan dan keseharian seperti kita-kita ini, jadi tokoh tersebut terasa dekat dengan pembaca. Rasa-rasanya Aruna ini seperti teman kita, adik kita, tetangga kita, ibu kita atau bahkan kita sendiri..

Menyenangkan gak sih, baca buku ini? Menyenangkan dan sejujurnya saya penasaran banget sama petualangan Aruna karena di awal bab sudah diceritakan kalau dia akan dinas keliling Indonesia. Bayangkan bakal seperti apa petualangannya. Dan kulinernya! Tapi karena bertele-tele jadi harus menunggu lama sampai tiba pada perjalanan dinas Aruna, rasanya bosan selama menunggu saat itu tiba..

Kesimpulannya saya suka buku ini. Covernya cantik untuk dipajang di rak, ukuran fontnya pas, tebal bukunya juga pas, ceritanya pun bagus. Penulis bisa mengkombinasikan tema dengan baik: kasus flu burung sebagai inti cerita dan kuliner sebagai bumbu penyedapnya (sebenarnya siapa sih orang yang gak suka kuliner?). Segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliner tidak terlalu menonjol sehingga tidak mengacaukan inti cerita. Kasus flu unggas yang harus ditangani Aruna pun ternyata tidak sekedar kasus, tetapi 'kasus' (pie kui). Maksudnya tidak sekedar pergi untuk menginvestigasi kasus, tapi ternyata ada intrik tersembunyi di balik penugasan Aruna (awas spoilerrrrr!)


Selamat membaca buku ini, ya. Hati-hati nanti ngidam macem-macem, lho :D