Kamis, 03 Maret 2016

[Resensi Novel Terjemahan] House of Secrets oleh Chris Columbus dan Ned Vizzini


House of Secrets
Buku Satu
Chris Columbus & Ned Vizzini

Judul asli: House of Secrets
Pengarang: Chris Columbus & Ned Vizzini
Terbit: tahun 2013
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan kedua: Agustus 2015
Jumlah halaman: 454 hlm

Rumah itu bertengger di tepi tebing menghadap langsung ke laut - tiga lantai bergaya Victoria dan dikelilingi pepohonan pinus. Mr. dan Mrs. Walker hampir tak percaya akan keberuntungan mereka mendapatkannya dengan harga murah.
Lain halnya dengan Cordelia, Eleanor, dan Brendan Walker yang langsung curiga. Ada sesuatu yang janggal di rumah itu. Bukan saja tua dan berbau lapuk, di sana mereka juga merasa seolah ada yang mengawasi.
Kelebatan sosok misterius, patung malaikat yang bisa menjelma, perlahan semua keanehan menampakkan diri. Tiga bersaudara Walker pun harus melalui petualangan seru demi mengetahui kebenaran tentang rumah penuh rahasia itu.

Ketika baca nama pengarang buku ini langsung mengenali nama seorang sutradara film Hollywood yang lumayan terkenal itu. Sutradara bikin novel fantasi remaja, jadi bikin penasaran sama ceritanya. Langsung aja yuk kita spoiler!




Bercerita tentang sebuah keluarga Walker yang membeli rumah mewah tapi antik milik seorang penulis buku bernama Denver Kristoff yang misterius tahun 1900-an. Rumah Kristoff itu ternyata punya banyak rahasia. Kelak, ketiga anak Walker; Cordelia, Brendan, dan Eleanor akan terseret masuk ke dalam buku cerita fiksi fantasi karangan Kristoff. Tidak cuma satu buku saja, tapi tiga buku sekaligus berbaur menjadi satu petualangan yang harus dilalui ketiga bersaudara itu untuk bisa keluar dari buku. Kerennya, Rumah Kristoff ikut masuk ke dalam buku dan ikut bertualang bersama mereka. Malah setelah dipikir-pikir, Rumah Kristoff seperti sekoci penyelamat bagi mereka. Mereka selalu berhasil selamat dari bahaya berkat rumah itu.

Kenapa mereka bisa masuk ke dalam buku? Putri Denver Kristoff, Dahlia Kristoff, yang memasukkan anak-anak Walker ke dalam buku untuk dijadikan umpan agar bisa mendapatkan Kitab Petaka dan Hasrat, sebuah buku yang bisa mengabulkan permintaan. Dahlia ingin menjadi penguasa dunia dan membutuhkan buku itu untuk mencapai keinginannya. Klise, ya?

Sampul edisi terjemahan Indonesia ini kurang pas, deh. Judulnya aja House of Secrets tapi gambarnya gak ada rumah-rumahnya. Lebih bagus kalo Rumah Kristoff aja yang nampang di sampul depan buku. Silakan perancang sampul berimajinasi membayangkan seperti apa penampakan Rumah Kristoff itu ^_^

Bab-bab buku ini sedikit-sedikit dan saya suka model seperti itu sebab jadi enak bacanya buat yang butuh jeda-jeda waktu (mm, jujur saya baca disambi-sambi soalnya >.<). Alurnya cepet secepet-cepetnya, sampe mikir ini tokohnya pada gak capek apa ya, habis satu petualangan langsung lanjut petualangan lain tanpa istirahat dulu. Pembaca seakan diajak untuk terus lari, membalik halaman demi halaman, sampe tak terasa tamat cerita. 

Kalimat yang dipakai saya pikir terlalu lugas, mengingat segmennya adalah remaja masa kini mungkin, ya. Pendiskripsian sesuatu juga kurang detail, akibatnya ada beberapa adegan yang kurang bisa dibayangkan dan terlihat tidak masuk akal; seperti ketika tong-tong Rumah Kristoff "menggelinding" membawanya jatuh ke laut. Kaya gimana itu coba? Untuk ide ceritanya sendiri sebenarnya sangat umum. Berkutat masalah penyihir, raksasa, bajak laut, sangat old school. Rada membosankan juga.

Karakter tokoh-tokohnya cukup baik. Tapi tokoh Will ini bikin dahi berkernyit. Saya pikir karakternya terlalu "lembek" untuk seorang tentara pada masa Perang Dunia II.  Memang usia Will masih 17 tahun, tapi tetap saja watak Will ini kurang keras untuk seseorang yang berpartisipasi dalam Perang Dunia II. Really, seorang pilot lho?

Hubungan antar tokoh cukup kuat. Apalagi ketiga bersaudara Walker. Mereka benar-benar manis. Mereka saling menjaga, bercanda, dan bertengkar seperti layaknya saudara. Yang kurang sreg malah hubungan antara Cordelia dengan Will. Serius nih, baru aja ketemu udah saling naksir. Hubungan yang terlihat sangat umum dan mudah ditebak.. Dari ketiga bersaudara itu saya paling kena sama Brendan. Anaknya lucu tapi sedikit sinis. Kebayang Edmund dalam cerita Narnia, tapi lebih berandal sebab Brendan orang Amerika hahaha. Sedangkan tokoh favorit saya sepanjang cerita ini tentu saja: Rumah Kristoff. 

Dan seharusnya Eleanor akan terkena sedikit kutukan dari Kitab Petaka dan Hasrat, sebab di akhir cerita dia menggunakan tiga permintaan melalui buku celaka itu. Poor Eleanor..

Walaupun ini cerita fantasi remaja, tapi ada sedikit unsur kekejaman. Nantinya akan ada tokoh yang mati. Dan tentu saja ini bukanlah petualangan terakhir anak-anak Kristoff. Sekuelnya yang versi terjemahan Indonesia sudah terbit. Sudah masuk list buku yang dibaca selanjutnya.

Begitulah, buku ini cukup menarik dan saya terhibur. Selain ide ceritanya yang kuno, buku ini bikin saya senyum-senyum. Apalagi membaca komentar-komentar anak-anak Kristoff. Membuat adegan yang awalnya menegangkan dan sadis, menjadi kocak. Terselip juga beberapa istilah pop culture, lumayan untuk pengetahuan.

Sabtu, 06 Februari 2016

[Resensi Novel Terjemahan] Tales from The Perilous Realm oleh JRR. Tolkien


Tales from The Perilous Realm
Kisah-Kisah dari Negeri Penuh Bahaya
JRR. Tolkien

Judul asli: Tales from The Perilous Realm
Pengarang: JRR. Tolkien
Terbit: tahun 1949
Penerjemah: Poppy D. Chusfany
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: tahun 2015
Jumlah halaman: 464 hlm 

Roverandom, si anjing kecil, ditenung menjadi anjing mainan dan menjelajahi dunia yang penuh makhluk aneh menakjubkan; Petani Giles dari Ham, yang gendut dan penakut, dipanggil untuk berperang melawan naga Chrysophylax; Tom Bombadil dalam petualangan-petualangannya bertemu dengan troll, kurcaci, dan para pangeran; Pandai Besi dari Wootton Major masuk ke dunia Faery melalui bahan-bahan ajaib untuk membuat kue raksasa; dan Niggle si pelukis berusaha menyelesaikan lukisan pohonnya yang sempurna.
Kumpulan cerita dan puisi J.R.R. Tolkien ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi indah karya Alan Lee.



Bagus! Merupakan kompilasi karya Tolkien terdiri dari lima cerita yang indah. Sekilas mengingatkan pada Bilbo, Frodo, Elves; walaupun kisah-kisah di dalamnya tidak berkaitan dengan kisah di Middle-earth. Bahkan ada cerita yang benar-benar mengingatkan saya pada Gandalf. Tidak seperti The Hobbit dan trilogi The Lord of The Ring, cerita-cerita di buku ini berirama riang dan jenaka. Cerita Sang Penakluk Naga malah bikin terkikik-kikik. Untuk ilustrasinya sendiri kurang menghibur, sangat minim dan sederhana.

Cerita favorit saya adalah Roverandom. Berawal dari sebuah cerita yang sederhana yang kemudian dibumbui menjadi kisah yang menakjubkan. Sungguh hebat Mr. Tolkien ini. Imajinasinya benar-benar luas dan liar.

Tapi agaknya bab lampiran pada buku ini membuat dahi sedikit berkerut. Apa yang saya tangkap dari bab itu intinya adalah menjabarkan apa itu dongeng peri (dongeng yang ceritanya ada perinya), lengkap disertai contoh mana yang termasuk dongeng peri mana yang bukan. Termasuk juga apakah (atau siapakah) peri itu sendiri. Haduh, saya sendiri kurang menikmati bab ini. Semacam membaca karya ilmiah atau literatur.

Selasa, 05 Januari 2016

[Resensi Novel Terjemahan] The Silmarillion oleh JRR. Tolkien


The Silmarillion
JRR. Tolkien

Judul asli: The Silmarillion
Pengarang: JRR. Tolkien
Terbit: tahun 1977
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: tahun 2015
Jumlah halaman: 624 hlm, 20 cm

Ketiga Silmaril adalah batu-batu permata sempurna buatan Feanor, Elf yang paling cemerlang diantara seluruh rasnya. Ketika permata-permata itu dicuri Morgoth, Penguasa Kegelapan pertama, untuk memenuhi maksud dan tujuannya sendiri, Feanor dan kaum kerabatnya mengangkat senjata dan mengobarkan perang dahsyat yang berlangsung sangat lama, untuk merebut kembali ketiga Silmaril. Inilah kisah tentang pemberontakan mereka melawan dewa-dewa, dan sejarah Zaman Pertama yang penuh kepahlawanan di Middle-earth.



Di surat JRR. Tolkien sebenernya udah dijabarin secara ringkas cerita dari buku ini; mulai dari awal terbentuknya dunia, kisah pada Zaman Pertama dan kehancurannya, serta kisah awal dan akhir dari Zaman Kedua. Kemudian di bab akhir buku akan diceritakan rangkuman kisah tentang peristiwa besar yang terjadi pada Zaman Ketiga, yaitu cincin legendaris yang melatarbelakangi kisah The Hobbit dan trilogi The Lord of The Rings. 

Inti cerita buku ini adalah jeng jeng jeng! Perang antara Elves (Manusia nanti juga ikut-ikutan) dengan Bang Morgoth guna memperebutkan tiga biji batu Silmaril. Pertanyaannya adalah: kenapa hanya masalah sepele rebutan batu akik tapi ceritanya bisa epik gini yah?

Ini ada beberapa istilah yang saya deskripsikan sendiri menurut penerawangan saya yang tidak valid:

Iluvatar: semacam Tuhan. Hanya ada satu. Dia yang menciptakan segalanya.
Valar: semacam malaikat. Bisa melakukan apapun kecuali menciptakan sesuatu. Jumlahnya ada 14; 7 cowok, 7 cewek (wew..).
Maia: semacam asistennya Valar. Jumlahnya banyak.
Morgoth aka Melkor: salah satu Valar yang membangkang. Semacam setan kali ya.
Valinor: negeri tempat kediaman Valar di bumi.
Sauron: Maia yang berhasil dihasut Morgoth lalu jadi panglima perang Morgoth yang fabulous.

Jadiiii, pada suatu masa adalah Iluvatar, Tuhan. Dia menciptakan malaikat-malaikat yang disebut Valar. Iluvatar sepertinya sangat menyukai musik, maka diperintahnyalah para Valar untuk menyanyi. Dunia tercipta dari nyanyian mereka dan Iluvatar memerintahkan para Valar untuk mengisi dan mengorganisir dunia. 

Iluvatar lalu menciptakan Anak-Anak Iluvatar untuk ditempatkan di bumi, yaitu Elves dan Manusia. Mereka terbangun di bumi pada zaman yang berbeda. Elves dulu, baru Manusia. 


Para Valar bekerjasama membentuk bumi. Ada Valinor yang merupakan negeri tempat tinggal para Valar, dan Middle-earth negeri tempat Elves dan Manusia kelak terbangun. Tapi, ada satu Valar yang membangkang bernama Melkor aka Morgoth sebab dia ingin menjadi penguasa bumi dan menjadikan Elves dan Manusia sebagai bawahan-bawahannya. Sebab itulah dia selalu merusak hasil karya kawan-kawannya sesama Valar di bumi sehingga akhirnya dia diusir. Morgoth kabur dan diam-diam membangun kerajaannya di Middle-earth. Sedangkan Valar pun hidup damai di Valinor. Mereka menciptakan dua pohon suci untuk menerangi negeri mereka.


Tibalah saatnya ras Elves terbangun dari tidurnya di suatu tempat di Middle-earth. Para Valar merasa iba bila Elves dilukai oleh Morgoth sehingga mereka meminta Elves untuk tinggal bersama mereka di Valinor. Kelak Elf yang tertangkap Morgoth akan disiksa dan diracuni sehingga mereka menjadi Orc. Kasian ya..


Beberapa Elves setuju untuk pindah ke Valinor, tapi yang lain memilih untuk tetap tinggal di tempat asal mereka. Elves yang memilih transmigrasi ke Valinor harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sana. Dalam perjalanan panjang itu para Elves terpecah-pecah sebab ada yang memilih untuk tinggal di hutan, bukit, atau pantai yang dilewati. Itulah kenapa Elves terdiri dari bermacam suku, bahasa, dan memiliki kerajaannya masing-masing.

Akhirnya sampailah rombongan Elves di Valinor. Suatu hari seorang Elf ganteng bernama Feanor berhasil menyimpan cahaya dua pohon suci ke dalam tiga butir batu akik bernama Silmaril. Morgoth kepingin punya yang kaya begituan sehingga dia datang ke Valinor dan mencuri ketiga batu Silmaril lalu kabur ke kerajaannya. Maka Feanor pun pergi dari Valinor dan bertekad merebut batu-batu itu.


Ceritanya baguuusss. Secara saya suka cerita fantasi-ghaib-ajaib seperti ini. Kenapa Mr. Tolkien punya imajinasi yang luar biasa gini ya. Sayang, seharusnya lebih banyak bikin cerita lagi supaya daku senangg hehehe. Selesai baca saya suka mengamat-amati peta Middle-earth sambil membayangkan di mana para pemain tinggal, ada kejadian apa di daerah ini, lalu sekarang bagaimana nasib para penumpang kapal Cirdan, lalu lalu Feanor sendiri sekarang lagi apa ya (ngefans ceritanya wkwkwk).

Sabtu, 26 Desember 2015

[Resensi Novel Terjemahan] Deception Point oleh Dan Brown


Deception Point
Dan Brown

Judul asli: Deception Point
Pengarang: Dan Brown
Terbit: tahun 2004
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Bentang
Cetakan ketiga: November 2015
Jumlah halaman: 700 hlm

Rachel Sexton, analis intelijen Gedung Putih, menghadapi dilema ketika Presiden Amerika Serikat memintanya menyelidiki penemuan ganjil NASA di Kutub Utara. Apalagi Senator Sexton, ayah Rachel, hendak menantang Sang Presiden dalam pemilihan mendatang. Rachel curiga bahwa Presiden hanya ingin memanfaatkannya dalam sebuah intrik politik.
Kecurigaan Rachel berubah menjadi teror ketika sebuah pasukan misterius mengincarnya. Penemuan NASA yang terkubur jauh di dalam es Kutub Utara itu ternyata memakan korban. Dua ilmuwan terbunuh. Rachel dan akademisi Michael Tolland diburu dalam keganasan cuaca kutub karena mengetahui muslihat luar biasa yang dirancang untuk menipu seluruh dunia.
Dari pusat pemerintahan Amerika ke keganasan iklim Kutub Utara, Dan Brown meramu sains, sejarah, dan politik dalam sebuah kisah penuh kejutan dan ketegangan.

Seperti karya-karya Dan Brown lainnya yang pernah saya baca: TOP. Memang belum semua karya beliau saya baca, tapi dari sedikit buku yang sudah saya nikmati pasti saya dibuat takjub oleh ceritanya. Beliau memang pengarang yang brilian. Sangat memahami seluk beluk dari konsep dan materi ceritanya. Beliau dengan cerdiknya memadukan sains, militer, politik, dan sejarah serta didukung oleh riset yang mendalam menjadi sebuah suguhan cerita fiksi yang epik. 

Oke, waktunya kita spoiler!

Buku ini banyak diisi dengan adegan action thrillernya yang bikin WOW. Adegannya total, tidak setengah-setengah, dan benar-benar bikin penasaran plus jantung yang ikut berdentam-dentam. Semua unsur dalam cerita tidak main-main: Gedung Putih, NASA, NRO (badan intelijan Amerika Serikat), Delta Force (pasukan tempur super istimewa milik Amerika Serikat), ditambah dengan ilmuwan-ilmuwan yang sangat ahli di bidangnya, plussss alat-alat canggih milik NASA dan transportasi yang "tidak umum"; seperti Air Force One, kapal selam Charlotte, jet Aurora, dan helikopter Kiowa. Sepetinya beliau penggemar benda-benda elegan, canggih dan ekstrem. Ahh Kiowa, kamu sungguh mempesona tapi sayang nasibmu di cerita ini kurang beruntung. Sepertinya helikopter ini jadi karakter favorit saya. Namanya saja cantik dan enak diucapkan. Kiowa. Lol. 

Benda-benda di atas memang bikin saya geleng-geleng kepala, tapi jangan lupa dengan ketegangan yang terjadi di Gedung Putih dengan segala intrik politiknya. Dan sepertinya segala malapetaka itu dimulai dari sesuatu yang berbau: POLITIK. Atau malah ego seseorang. Dendam lama Pickering yang tidak akan bisa terlupakan karena menyangkut kehilangan seorang anggota keluarga yang dicintai. Bahkan kegigihan dan kekuatan tokoh utama kita, Rachel dan Tolland, diperoleh dari kenangan akan orang tercinta yang telah tiada.

Jadi, dua kejadian di dua tempat berbeda itu diceritakan saling bergantian. Di satu sisi pembaca dibuat tegang dengan petualangan Rachel di Kutub Utara, di sisi lain kehebohan yang terjadi di Gedung Putih membuat pembaca menahan nafas. Hebatnya nih, semua kejadian itu, dengan segala kehebohan dan ketegangannya, terjadi hanya dalam waktu semalam saja. Hosh.. Tidak dapat dibayangkan, dengan totalitasnya seakan kejadian berlangsung selama berhari-hari. Pun diakhiri secara dramatis. Ledakan gunung berapi bawah laut? Serius? Sepertinya cukup menyeramkan dan saya kira tidak akan ada yang bisa selamat dari bencana itu. Saya berpikir, seandainya saya jadi Rachel saya merasa kalau saya sudah tidak akan selamat sejak dari awal. Dan kalau bukan karena tekad yang kuat, pasti daya tahan tubuhnya jos gandos hahaha.

Covernya oke. Merepresentasikan pemerintahan yang berupaya mendapatkan kembali kepercayaan warganya dengan penemuan meteorit di bawah es di Kutub Utara. Tapi bisa juga dipandang sebagai pemerintahan yang akan karam karena penipuan besar yang dilakukannya. Alurnya cepat. Awal buku memang terasa sedikit membosankan, tapi begitu memasuki tengah hingga akhir cerita, ketika sedikit demi sedikit kebenaran terungkap, langsung bikin penasaran. Terjemahannya juga baik. Dan bentuk fisik buku ini sangat praktis, kecil, mudah dibawa. Tapi sepertinya kurang enak dilihat kalau dipajang di rak buku. Apaan sihhh, penting yaa wkwkw. Kertasnya buram, jelek. Kertas cover juga jelek, tipis, gampang terlipat. 

Drama ini terjadi pada masa kampanye pemilihan Presiden, dimana Presiden AS Herney mulai kehilangan dukungannya karena beliau menyetujui penggelontoran dana negara yang sangat besar kepada NASA, sedangkan kandidat rival Presiden, Senator Sexton, mengusung tema kampanye penghematan uang negara menginginkan privatisasi NASA agar anggaran negara bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih realistis. Disaat nasib NASA mulai terancam, seorang petinggi NRO bernama Pickering mendapat ide dengan cara menyelipkan batu meteorit palsu secara diam-diam dan menggiring NASA agar seolah-olah mereka lah yang menemukan batu itu sehingga NASA akan mendapat popularitas lagi di mata warga AS.

Tapi kebenaran perlahan pasti akan terungkap. Para ilmuwan hebat tentu saja bisa melihat kejanggalan pada batu itu, walaupun diawali dengan ketidaksengajaan. Karena mereka berusaha untuk memberitahu Presiden Herney dan dunia bahwa batu meteorit itu palsu, tentu saja nyawa mereka terancam. Pickering memerintahkan pasukan tempur elit super spesial milik AS bernama Delta Force untuk membunuh mereka. Para ilmuwan itu - Rachel, Tolland, dan Corky - berjuang untuk mempertahankan nyawa mereka, sekaligus menjaga bukti-bukti kepalsuan dari batu meteorit agar tidak lenyap.

Novel bagus, tidak berat. Baca deh, walaupun penuh dengan teknologi canggih dan istilah sains tapi mudah dipahami kok.









Sabtu, 28 November 2015

[Resensi Novel Terjemahan] Paper Towns oleh John Green


Paper Towns
Kota Kertas
John Green

Judul asli: Paper Towns
Pengarang: John Green
Terbit: tahun 2008
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: tahun 2014
Jumlah halaman: 360 hlm

Saat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam - berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan - cowok itu mengikutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit, dan sampai sekarang selalu beraksi sendirian. Sedangka Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dicintainya dari jauh tersebut. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi.
Gadis yang sejak dulu merupakan teka-teki itu sekarang jadi misteri. Namun, ada beberapa petunjuk. Semuanya untuk Q. Dan cowok itu pun sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis tersebut.

Beli buku ini karena:
1. Diskon 
2. Gambar sampulnya menarik juga
3. Penulisnya terkenal dan beliau yang menulis buku The Fault in Our Stars dan sepertinya buku itu sangat populer bahkan sudah diangkat ke layar lebar
4. tapi sebelumnya saya belum pernah baca buku dari John Green dan saya punya firasat kalau saya tidak suka buku ini 
5. Dan ternyata saya tidak suka buku ini

Bagaimana ya. Saya tidak menikmati cerita ini. Ruwet tapi tidak menarik untuk diurai. Cukup klise. Inti ceritanya sendiri saya pikir ada di bagian akhir chapter dan saya gagal paham. Sebenarnya saya sambil terkantuk-kantuk berusaha menyelesaikan buku ini karena membosankan. Pola pikir Margo ini susah dipahami karena cara dia menyampaikan pendapatnya terlalu puitis. Sepertinya dia lumayan suka sastra mengingat dia menggunakan buku kompilasi puisi sebagai salah satu petunjuknya. Mungkin dia bermaksud kalau dia itu ingin mencari jati diri dan mandiri dengan cara kabur ke kota besar tanpa bilang siapa-siapa. Biar gak ada yang menghalangi jalannya.




Buku ini bercerita tentang seorang cowok SMA bernama Quentin yang naksir teman masa kecilnya bernama Margo. Quentin yang sejak kecil sudah sering bermain dengan Margo dan mereka bertetangga pula jadi merasa kalau dia sangat mengenal Margo. Padahal kenyataanya pribadi Margo bukanlah seperti apa yang dibayangkan oleh Quentin. Ceria, populer, supel. Margo adalah orang yang tertutup. Bahkan orang tua dan sahabatnya - dan mungkin Margo sendiri - tidak mengenal siapa sejatinya Margo. 

Dan pada suatu hari Margo kabur dari rumah. Orang tuanya sudah bosan dan lepas tangan karena Margo memang sudah sering kabur dari rumah. Polisi pun menganggap bahwa tindakan Margo ini legal sebab dia sudah berusia 18 tahun dan berhak untuk pergi dari rumah. Ketika sudah berhari-hari tidak kembali dan tidak ada seorang pun yang peduli, Quentin jadi khawatir sehingga dia berniat untuk mencari Margo. Tapi Margo kurang teliti. Dia meninggalkan jejak ke mana tujuan dia pergi dan Quentin menemukan jejak-jejak itu. Lucunya, Quentin mengira kalau Margo sengaja meninggalkan petunjuk-petunjuk itu untuknya supaya Quentin pada akhirnya menemukan Margo. Ge er ya Quentin. 

Akhirnya Quentin berhasil menemukan Margo tetapi gadis itu tetap tidak mau pulang. Ya sudah endingnya agak-agak mengganggu kalbu gitu. Mereka pun berpisah. Quentin balik ke kampung dan Margo tetap pada tujuan awalnya. Kota Besar. New York kalau gak salah hehe. 

Sesuatu yang bikin cukup terhibur dari buku ini adalah teman-teman Quentin yang koplak (baca konyol) banget. Bikin cerita ini jadi sedikit fresh. Mungkin satu hal yang bikin saya tidak suka dari buku ini adalah genrenya hahaha. 




Minggu, 04 Oktober 2015

[Resensi Novel] Kristalisasi


Kristalisasi
Alexia Deechen, Melody Violine, Aryo Pratomo, Harbowoputra, Andry Chang, Pratama Wirya, Rynaldo C. Hadi, Iris Aegis, Ami Raditya, Hans J. Gumulia

Judul asli: Kristalisasi
Pengarang: Alexia Deechen, Melody Violine, Aryo Pratomo, Harbowoputra, Andry Chang, Pratama Wirya, Rynaldo C. Hadi, Iris Aegis, Ami Raditya, Hans J. Gumulia
Terbit: tahun 2012
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 266 hlm

Semesta Vandaria memendam beragam kisah menawan. Bisikan Sang Angin menuntun Evander Evrard dalam duelnya sebagai komandan Isfaris. Vaeran tidak segan-segan menghukum manusia-manusia penyebab Padamnya Bintang-Bintang Vaeran sendiri, hingga seorang Pejalan Cakrawala memutuskan untuk campur tangan. Sebulan sekali, Hamon menyaksikan anak manusia dijadikan bahan baku Batu Filsuf di Kastel Deimos. Suatu pagi pada Musim Gugur, Murid Akademi Sihir Holstok bernama Lena terbangun dan mendapati seekor naga bening dalam kamarnya.
Dengan Nyanyian Alam, Fyanei berusaha menyelamatkan desanya dari longsor. Gael Grifon berguru kepada seorang frameless tua yang sinis demi menjadi manusia penyihir di Padang Hijau Atap Merah. Tiga buah Relik Agung Gallizur dicari untuk menghadapi jenderal Deimos keji dan salah satunya telah dipegang Athalos, pemuda misterius yang hilang ingatan. Di Bawah Bulan Separuh kota perdagangan Zarkand, seorang pencuri bertekad mengambil kembali kristal miliknya. Beri Kami Damai adalah tugas terakhir Arvena, seorang penyair yang sering membohongi rakyat dengan syair kepahlawanan. Pentagon menghadirkan masa lalu lima tokoh yang akan memegang kunci nasib Benua Elir.
Tiga zaman, tiga benua, sepuluh kisah yang mengkristal dalam satu semesta Vandaria...

Fun bacanya! Cerita-ceritanya ringan. Mayoritas bercerita tentang perseteruan antara frameless dengan manusia.

Buku kompilasi berisi sepuluh kisah berbeda yang ditulis oleh sepuluh pengarang berbakat. Beberapa penulis adalah seorang amatir dan tidak terlalu produktif tapi tulisan mereka cukup bagus. Penulis favorit saya adalah Alexia Deechen dan Iris Aegis. Mereka pandai merangkai kata menjadi kisah yang mengalun indah. Pendiskripsian mereka juga bagus seolah kita juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita dan mampu membayangkan seperi apa Dunia Vandaria itu. 

Ada beberapa cerita yang kurang menarik, tapi ada juga yang sangat mengena. Di Bawah Bulan Separuh adalah salah satu cerita favorit saya. Penulis mengangkat cerita dari sisi gelap Dunia Vandaria, di mana tidak semua manusia bahkan frameless hidup dengan aman dan damai. Selain itu judul Padang Hijau Atap Merah juga cerita yang menarik. Kisahnya lucu dan gaya penulisannya seperti dongeng. Seakan-akan cerita itu hanyalah hikayat di dalam semesta Vandaria. 




Ada sepuluh cerita pendek di dalam buku ini:

1. Bisikan Sang Angin oleh Alexia Deechen 
Bercerita tentang seorang komandan negeri Isfaris bernama Evrard yang pingsan lalu diselamatkan oleh seorang frameless ketika pasukan frameless menyerbu negeri tersebut. Ironisnya, frameless yang menyelamatkan Evrard adalah komandan pasukan frameless sendiri yang bernama Haleine.

Cerita yang saya suka. Masa lalu Evrard dan Haleine sama-sama misterius. Penulis bisa mendeskripsikan sesuatu dengan baik. Ceritanya sangat tipikal tapi menarik. 

2. Padamnya Bintang-Bintang Vaeran oleh Melody Violine
Seorang penyihir frameless bernama Vaeran membunuh Charnd, seorang penyair, karena menganggap penyair tersebut telah membuat Melviola, pemain viola kesayangan Vaeran, kehilangan bakatnya. Penyebabnya ternyata Charnd dan Melviola saling jatuh cinta. Akibatnya nada-nada viola yang dimainkan Melviola menjadi berubah karena adanya perasaan cinta di dalam dirinya. 

Mentah dan murni. Seakan-akan cerita ini terjadi beratus-ratus tahun yang lalu, pada masa-masa awal terciptanya Vandaria. Tema cerita roman yang sederhana tapi indah. Endingnya bikin penasaran. 

3. Batu Filsuf oleh Aryo Pratomo
Seorang anak yang tinggal bersama gurunya di sebuah kastil. Setiap satu bulan sekali, Sang Guru mendapat kiriman seorang anak manusia dan dia mengubahnya menjadi sebuah batu permata. Hal itu sudah dilakukan ribuan kali dimulai sejak para leluhur mereka. Tujuannya adalah untuk membuka pintu menuju surga Eden, dan bahkan membuat surga yang baru.

Ceritanya kurang menggigit, endingnya kurang klimaks hehe..

4. Musim Gugur oleh Harbowoputra
Bercerita tentang murid sekolah sihir Holstok bernama Lena yang tiba-tiba diikuti oleh seekor naga. Setting waktunya bergantian antara kejadian 500 tahun yang lalu dengan 500 tahun kemudian.

Saya agak bingung sama alur dan jalan ceritanya. Penulisnya kurang detail (atau mungkin kurang oke dalam mendeskripsikan sesuatu, ya) jadi saya gak nangkep apa maksudnya si penulis. Gaya penulisannya kaya baca cerita anak-anak.


5. Nyanyian Alam oleh Andry Chang
Seorang gadis bernama Fyanei yang berhasil menyelamatkan desanya dari musibah longsor berkat nyanyian magisnya yang mampu menahan longsoran tanah.

Cerita yang sangat simpel. Terlalu tipikal. Rada membosankan. Tapi ada pesan moral dalam cerita ini: jangan menggunduli hutan, ya.

6. Padang Hijau Atap Merah oleh Pratama Wirya
Seorang manusia yang ingin belajar sihir dan berusaha membujuk soerang frameless agar bersedia menjadi gurunya.

Ini cerita lucu dan sederhana. Seperti membaca cerita lepas dalam sebuah dongeng. Seakan-akan cerita ini hanyalah hikayat, tidak nyata, dalam sebuah dunia Vandaria yang sama tidak nyatanya.

7. Relik Agung Gallizur oleh Rynaldo C. Hadi
Bercerita tentang seorang pemuda yang berhasil menemukan salah satu dari tiga benda pusaka milik Gallizur. Singkat cerita, ketiga benda pusaka itu akhirnya berhasil ditemukan dan salah satunya dihancurkan menggunakan dua pusaka sisanya sehingga lepaslah segel yang membelenggu deimos bernama Semiazas.

Ceritanya membosankan. Terlalu banyak intrik yang tidak perlu.


8. Di Bawah Bulan Separuh oleh Iris Aegis
Seorang anak gelandangan yang sepertinya memiliki takdir yang hebat. Dia berusaha mencuri uang milik gelandangan tua tapi yang didapatnya malah sebutir kristal yang sangat indah. Si gelandangan tua berkata bahwa benda itu adalah milik si bocah dan dia sudah menunggunya selama ribuan tahun.

Ceritanya bagus dan endingnya bener-bener bikin penasaran. Gantung banget. Semacam ini cerita baru prolognya aja.

9. Beri Kami Damai oleh Ami Raditya
Bercerita tentang seorang penyair bernama Arvenia yang selalu ikut ke medan perang. Dia menyampaikan kebohongan kepada rakyatnya, berkata bahwa para prajurit bertempur dengan gagah berani dan gugur dengan terhormat, padahal tidak seperti itu kenyataanya.

Apa ya, serasa ada yang mengganjal di cerita ini. Sejak awal konsep tentang penyair yang selalu ikut di garis depan medan pertempuran rasanya tidak bisa dibayangkan. Pesan moral dalam cerita ini: jangan berbohong meskipun pahit kenyataanya.

10. Pentagon oleh Hans J. Gumulia
Cerita kompilasi di dalam buku kompilasi. Ceritanya yang hanya sepotong-sepotong jadi bikin malas nulis sinopsisnya. Jadi intinya ada lima cerita pendek berbeda di dalam cerita pendek ini. Dan sepertinya kelima cerita ini nantinya akan saling bertautan. Entah di buku seri Vandaria Saga yang mana saya bisa menemukan cerita ini supaya bisa membaca versi utuhnya. Padahal penasaran juga nih sama kelanjutan ceritanya. Hhh..



Minggu, 13 September 2015

[Resensi Novel] Redfang oleh Fachrul R.U.N.


Redfang
Fachrul R.U.N.

Judul: Redfang
Pengarang: Fachrul R.U.N.
Terbit: tahun 2011
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan pertama: 2011
Jumlah halaman: 418 hlm
  
Delapan tahun silam, Cassius Redfang menghabisi adiknya demi menyandang gelar warisan sang ayah. Sekarang, dipandu mimpi ganjil istrinya, Cassius menemukan fakta mengejutkan, sang adik telah kembali mewujud di dunia. Dilanda kebingungan, Cassius mulai mencoba menyingkap teka-teki dibalik kebangkitan adiknya. Mukjizat para Vanadis-kah? Ataukah... orang itu justru berhubungan dengan hawa gelap yang menyeruak perlahan di negeri Blackmoon? Segalanya serba gelap...

Ini cerita bagus, lho! Penulis di hikayat Vandaria Saga yang paling saya suka! Warna ceritanya seperti cerita Game of Throne; tentang perebutan kekuasaan, pertikaian antar keluarga, adu domba dan saling hasut, intrik politik, balas dendam. Walaupun tidak digambarkan secara mendalam dan detail, tapi suasana kelam dan panas dari api yang dikobarkan oleh penulis sangat terasa.

Btw, nama Cassius ini sangat familier bagi saya yang suka nge-game hehe..


Pada suatu masa di sebuah provinsi Kerajaan Valta yang dipimpin oleh klan Redfang, terjadi perselisihan antara kakak dan adik memperebutkan takhta. Sang adik, Velius, seharusnya yang akan menggantikan raja yang mangkat. Tapi Cassius, sang kakak, tidak terima. Maka Cassius pun membunuh Velius secara diam-diam dalam duel satu lawan satu. Cassius lalu menikah dengan Avenia, yang sebelumnya adalah tunangan Cassius.

Suatu hari Cassius diserang oleh seseorang yang sangat mirip dengan Velius. Cassius tentu saja ketakutan setengah mati, berpikir kalau-kalau Velius hidup kembali dengan bantuan deimos dan akan balas dendam.

Ternyata singkat cerita, itu adalah ulah Arvenia. Setelah kematian Velius, dia mengadopsi anak laki-laki dan "mendidiknya" agar menjadi seperti Velius; ya tingkah laku, kemampuan, maupun karakternya. Arvenia memang sejak awal tahu kalau Cassius lah yang membunuh Velius.

Tapi, ini bukan lah sekedar balas dendam semata. Ada banyak hal lain yang dipertaruhkan dan dikorbankan di sini. Perebutan takhta, mencari sekutu untuk memperluas wilayah klan, bahkan sesuatu yang lebih besar dan mengerikan; yaitu kebangkitan deimos

Plot ceritanya sangat tertata, alurnya lambat tapi tidak membosankan. Karakter masing-masing tokoh tidak semua dikupas. Hanya Cassius dan Velius yang menjadi sorotan. Bahkan Velius pun hanya tampil sekilas. Sayang sekali, padahal tokoh Velius ini sepertinya bakal populer jika dia tidak buru-buru mati dibunuh kakaknya mengingat pribadinya yang mempesona banyak orang (saya doang maksudnya hahaha). Ide cerita ini mungkin sederhana: ambisi, cinta, dan balas dendam. Tapi penulis bisa membuat ide ini berkembang menjadi cerita yang menarik, penuh intrik, pengkhianatan, dan dibumbui dengan unsur politik. Ini sangat sesuai dengan situasi dan kondisi yang banyak dialami kerajaan-kerajaan jaman dahulu dimana sumber permasalahan adalah seputar perebutan kekuasaan antar anggota keluarga. Cocok pokoknya.

Banyak tokoh-tokoh penting yang akan mati, termasuk Cassius sang tokoh utama. Tidak banyak ditemukan adegan baku hantam, sebagian besar cerita menyorot tentang Cassius yang berusaha mengatasi masalah gangguan psikis yang berasal dari akar pikirannya sendiri. Kemunculan sosok Velius yang seharusnya sudah mati membuat dia mengalami halusinasi dan ketakutan akan pembalasan dari Velius.

Ini mungkin salah satu dari sedikit novel dimana kegelapan yang menang, walaupun cara pencapaiannya dibalut dengan tindakan yang heroik dan benar di mata dunia. Cerita ini pasti akan ada sekuelnya, mengingat endingnya yang masih gantung, entah sudah terbit atau belum bukunya. Dan saya pikir cerita di buku Redfang ini ada buku prekuelnya, tapi entah yang mana.

Saya tertarik membeli novel ini karena saya penasaran dengan konsep cerita Vandaria Saga yang settingnya mirip dalam sebuah game RPG. Bahkan konsep unik ini disebut sebagai role playing novel yang pertama, alih alih role playing game. Wow..

Baca deh, terutama karangan Kak Fachrul. Akan ada banyak intrik, banyak kejutan, banyak tanda tanya, cerita yang kompleks tapi enak untuk dilahap!