Minggu, 22 Maret 2015

[Resensi Novel Terjemahan] A Painted House oleh John Grisham


A Painted House
Rumah Bercat Putih
John Grisham

Judul asli: A Painted House
Pengarang: John Grisham
Terbit: tahun 2000
Penerjemah: Hidayat Saleh
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua: Mei 2006
Jumlah halaman: 560 hlm, 18 cm
                  
Bagi si kecil Luke Chandler, hari-hari memetik kapas di ladang kakeknya merupakan hari-hari panas yang membosankan dan menguras tenaga. Mendengarkan siaran pertandingan bisbol di radio merupakan satu-satunya hiburan, setelah seharian bekerja di ladang. Tapi, sebagai keluarga petani penyewa tanah, mereka mesti membanting tulang, dengan hasil tidak seberapa. Dalam usianya yang baru tujuh tahun, Luke sudah mengerti bahwa panen baik berarti ada sedikit simpanan uang di bawah kasur; panen buruk berarti mereka mesti hidup dari hasil kebun sayur sendiri kalau ingin makan.
Pada tahun 1952 itu, lagi-lagi banjir menggagalkan panen kapas mereka. Kerja keras berbulan-bulan, tanpa hasil nyata. Dan Luke merasa sangat bersalah telah membuat ayahnya membelanjakan sedikit uang yang dimilikinya untuk membeli cat, agar rumah mereka putih dan indah, seperti rumah-rumah para petani yang lebih kaya. Baru terasa olehnya, betapa miskinnya mereka.
Kemiskinan itulah yang akhirnya mendorong orang tuanya untuk mengadu nasib di kota. Namun, sebelum mereka berangkat, Luke bertekad untuk merampungkan pekerjaannya mengecat rumah kakeknya.

Novel ini agaknya terinspirasi dari masa kecil sang pengarang. Beda banget sama novel-novel sebelumnya, novel ini bercerita tentang kehidupan petani kapas dilihat dari sudut pandang seorang anak berusia tujuh tahun yang merupakan anak dari petani kapas tersebut. Alur ceritanya sendiri sangat lambat dan bertele-tele. Banyak adegan-adegan gak penting yang bukan permasalahan utama diceritain secara panjang lebar dan detail.

Inti ceritanya sendiri yang saya tangkap adalah gagalnya panen kapas sebuah keluarga karena banjir yang dibumbui dengan rutinitas dan bermacam konflik baik dengan pekerja kapas, tetangga, lingkungan desa, maupun internal dalam keluarga. Mereka akhirnya memutuskan pindah ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik.



Keinginan Luke (tokoh utama) untuk mengecat rumahnya hanyalah salah satu dari sekian konflik yang ada di novel itu. A Painted House lebih bercerita kepada kehidupan yang ada di rumah bercat putih (yang awalnya rumah kayu yang belum bercat) milik keluarga Chandler itu daripada “bagaimana” asal muasal rumah tersebut pada akhirnya dicat putih. Alasan mengapa rumah itu dicat baru terungkap setelah seperempat awal buku, yang kemudian dipotong dengan kejadian-kejadian lain, dan baru diceritain lagi di lima bab terakhir.

Banyak kejadian-kejadian yang masih gantung dan bikin penasaran; misalnya bagaimana akhirnya nasib keluarga Latcher yang mengungsi karena rumahnya kebanjiran, bagaimana akhirnya nasib Ricky (dan juga Libby), bagaimana reaksi keluarga Spruill mengetahui kalau anaknya Hank ternyata sudah mati, dan bagaimana akhirnya nasib Luke dan orang tuanya sendiri setelah mereka memutuskan untuk pindah ke kota.

Menurut saya novel ini cukup menghibur dan bisa jadi bacaan ringan tanpa perlu banyak mikir seperti kalau kita baca novel-novel Grisham lainnya. Cuma gak ada ketegangan di cerita ini jadi agak bosenin juga. Covernya bagus, suka. Kertasnya standar aja pake buram dan fontnya kecil (Times New Roman 12 mungkin). Hal yang bikin saya tertarik untuk beli novel ini pertama nama pengarangnya dan kedua covernya yang bagus. Dipegang juga lebih dove (hanya perasaan hahaha). Di mata enak liadnya dan ditaruh di rak juga cantik (hahah kok malah bahas cover, penting ya :p).

Makasih udah mampir dan baca resensi saya. Mohon segala komentar dan pendapat diutarakan aja untuk keberlangsungan kita bersama. Trims!

Minggu, 15 Februari 2015

[Resensi Novel Terjemahan] Wonderstruck oleh Brian Selznick


Wonderstruck
Brian Selznick

Judul asli: Wonderstruck
Pengarang: Brian Selznick
Terbit: tahun 2011
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan pertama: November 2013
Jumlah halaman: 645 hlm

Kawanan serigala itu menatap Ben lekat dengan taring-taring putih berkilat dan lidah merah menjulur. Mereka mulai berlari melintasi hamparan salju tak berbatas di bawah terpaan sinar bulan. Jantung Ben berdegup bertalu-talu. Keringat mulai mengucur deras. Mimpi yang sama. Apa maksud semua ini? Mengapa mimpi-mimpi itu terus menghampirinya sejak kecelakaan itu terjadi? Andai Ben tahu, mimpi-mimpi itu barulah awal dari rentetan kejutan dalam hidupnya dan… petunjuk berharga untuk menemukan sang ayah yang lama menghilang.
Wonderstruck, disanjung pembaca di seluruh dunia sebagai salah satu buku menakjubkan. Ilustrasi yang sarat makna berpadu dengan teks yang mengalir menjadi satu cerita yang utuh, membuat Selznick layak disebut genius.

Ceritanya sederhana banget dan agak bosenin menurut saya. Gampang ditebak dan kurang greget, namun unik sebab mengisahkan dua cerita yang berbeda di masa yang berbeda pula. Kisah Ben dituangkan dalam bentuk narasi sedangkan Rose dalam bentuk gambar ilustrasi yang keren! Ini dia yang bikin kepincut beli bukunya, secara saya belum pernah baca novel Selznick sebelumnya yang kabarnya juga banyak digemari. Setelah baca, pendapat saya: ilustrasi keren menyelamatkan buku ini dari cerita yang biasa-biasa saja >.<

Pertama kali baca bingung juga, kok narasi sama ilustrasinya beda banget, tidak nyambung. Ternyata memang narasi dan ilustrasi itu menceritakan dua orang yang berbeda. Ilustrasinya bagus, apalagi kalau halamannya dibuka cepet jadi kaya nonton film. Ilustrasi Selznick ini sangat detail. Raut muka dan mimik wajah dibuat sangat apik sehingga tanpa kata-kata pun saya bisa ngerti bagaimana cerita dan kondisi dari Rose. Narasinya juga mudah dipahami, tidak berbelit.

Selesai baca buku ini malah bikin saya galau. Nasib si tokoh utama yang baru berusia sekitar 10 tahun ini kurang beruntung. Ibunya meninggal dan dia tidak kenal ayahnya; yang ternyata ayahnya pun juga udah meninggal. Bahkan ayahnya tidak jelas apa dia mengetahui keberadaan anaknya atau tidak. Pertanyaan si tokoh utama yang masih terngiang-ngiang di benak saya:

“Jika ibunya mengerti rasanya merindukan sesuatu, mengapa ia tidak mau membicarakan satu-satunya hal yang dirindukan oleh Ben?”

Egois sekali kedua orang tua si tokoh utama. Bapaknya belum pernah liat wujud anaknya sampai dia meninggal. Ibunya pun belum sempat menceritakan tentang bapaknya sampai ia meninggal juga. Mungkin ada alasan di balik sikap kedua ortunya yang seperti itu. Tapi apa pada akhirnya mereka memikirkan perasaan si anak? Ujung-ujungnya anaklah, yang notabene tidak ngerti apa-apa, yang harus berkorban dan memahami keadaan ortunya.

Sayang kertasnya buram. Semisal pake kertas yang lebih bagus, pasti gambar ilustrasinya juga bagus dan enak dilihat. Covernya kurang menarik. Tulisan judulnya itu kok dibuat miring. Bagian yang paling mengganggu nih ketika ada gambar ilustrasi yang terpotong di tengah halaman, sebab tulisannya jadi tidak nyambung dan susah dibaca.

Buku yang layak buat dikoleksi secara ilustrasinya bagus banget.

Sabtu, 17 Januari 2015

[Resensi Novel Terjemahan] A Prisoner of Birth oleh Jeffrey Archer


A Prisoner of Birth
Konspirasi Takdir
Jeffrey Archer

Judul asli: A Prisoner of Birth
Pengarang: Jeffrey Archer
Terbit: tahun 2008
Penerjemah: Suyarmanto
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: 2013
Jumlah halaman: 616 hlm, 20 cm

Andai ia melamar Beth Wilson sehari sebelumnya, atau sehari sesudahnya, Danny Cartwright takkan dituduh membunuh sahabatnya. Namun jika keempat saksi yang memberatkan Danny adalah pengacara, aktor terkenal, aristokrat, dan rekanan perusahaan terkemuka, siapa yang bakal memercayai ucapannya?
Maka dimulailah perjuangan Danny mendapatkan keadilan dari dalam penjara Belmarsh, tempatnya menjalani vonis 22 tahun, hingga peluang emas menghampirinya. Ia pun bertekad menyeret keempat saksi itu ke kursi terdakwa dan memaksa mereka mengucapkan satu kata: bersalah.

Buku pertama Archer yang saya baca. Cukup menikmati dengan alur cerita yang cepat dan tidak berbelit-belit. Penggalan babnya pendek-pendek dan saya suka yang seperti itu, jadi tidak terasa kalau ceritanya panjanggg. Tertarik beli buku ini karena baca sinopsisnya yang bilang kalau lawan si tokoh utama adalah pengacara, aktor terkenal, aristokrat,dan agen properti terkemuka. Wow, bakalan seperti apa ya ceritanya? Tapi sayang, covernya sendiri jelek (tidak gitu suka cover buku yang pake foto orang asli). Kertas yang dipake bukan buram jadi nyaman dibaca. Fontnya kecil, entah pake font apa hehe. Beberapa kalimat dan kata tidak sesuai EYD dan salah ketik. Terjemahannya sendiri kurang bagus, ada beberapa kalimat yang bikin bingung walaupun masih bisa dipahami.



Novel ini bercerita tentang perjuangan seseorang untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dalam suatu kasus pembunuhan. Si tokoh utama dituduh membunuh sahabatnya sendiri. Walaupun alur cerita cepat dan tidak berbelit tapi masih agak bingung juga, harus buka-buka lagi halaman sebelumnya supaya paham sebab ada beberapa hal yang tidak diceritain secara detail; seperti latar belakang si tokoh utama. Hal ini bikin saya salah paham, ternyata profil dia berbeda dari bayangan saya sebelumnya.

Beberapa kejadian tidak logis dan masuk akal. Contohnya saat si tokoh utama diceritain meninggal, tetapi keluarganya tidak mengenali bahwa jenasah itu bukanlah anggota keluarga mereka. Pengacara juga tidak mengenali kalau yang dihadapi bukanlah orang yang sesungguhnya, tapi hanyalah orang lain yang menyamar seolah-olah menjadi kliennya. Tokoh utama juga saya anggap jenius. Pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat (bahkan tidak lancar baca tulis), namun lama-lama dia belajar dan mampu memahami hal-hal seputar dunia hukum dan bisnis. Dia juga bisa nyambung dan paham cara meghadapi profesional-profesional di bidangnya, seperti pengacaranya dan bankir-bankir terkemuka hingga akhirnya mampu mengelola aset milik seorang bangsawan dengan baik. Semua itu dipelajari hanya dalam waktu 2 tahun dan dilakukan ketika si tokoh utama di dalam penjara. Wow! Saya jadi bayangin kalau si tokoh utama itu adalah orang yang amat mirip wajahnya dengan orang lain yang ditirunya bahkan bisa meniru cara bicara, gerak tubuh, tingkah laku, dan pola pikirnya dengan sangat baik. Ckckck..

Di samping semua keajaiban yang diberikan penulis kepada si tokoh utama, ceritanya sendiri cukup menarik. Bab-bab terakhir menurut saya ceritanya paling bagus karena persidangan melibatkan mantan hakim yang terkenal dan punya reputasi yang baik. Jadi lumayan bikin cerita tambah seru.

Makasih udah baca resensi saya, moga bisa memberi manfaat untuk pembaca semua. Jangan lupa tinggalin kritik, saran, komen di kolom bawah ya. Trims!